Bursa Global, Emas & Minyak Bergejolak

Bursa Global, Emas & Minyak Bergejolak

Hot News Market Hari Ini

( Kamis, 09 Januari 2020 )

Serangan Iran Tak Timbulkan Korban, Wall Street Menguat

Bursa Wall Street Amerika Serikat berhasil rebound dan berakhir di wilayah positif pada perdagangan Rabu (8/1/2020), setelah Presiden Donald Trump menyatakan bahwa serangan Iran tidak menimbulkan korban.

Berdasarkan data Reuters, indeks S&P 500 berakhir naik 0,49 persen di level 3.253,05, indeks Dow Jones Industrial Average menguat 0,56 persen ke posisi 28.745,09, dan indeks Nasdaq Composite ditutup menanjak 0,67 persen di level 9.129,24.

Dalam pernyataannya di Gedung Putih untuk menanggapi serangan rudal Iran ke pangkalan militer AS di Irak pada Rabu (8/1) pagi waktu Baghdad, Trump mengungkapkan bahwa serangan itu tidak melukai warga Amerika dan bahwa pemerintah Iran tampak akan menyudahi aksinya.

Sebelumnya, menteri luar negeri Iran menyatakan bahwa Negeri Republik Islam ini tidak berupaya memunculkan eskalasi. Pernyataan tersebut berikut cuitan Trump bahwa “Semua baik-baik saja!” di Twitter juga membantu menenangkan kegelisahan investor.

Menambah sentimen positif pasar, ADP National Employment Report melaporkan angka payroll swasta melonjak sebesar 202.000 pekerjaan pada Desember, melampaui perkiraan sejumlah ekonom dalam survei Reuters untuk pertambahan 160.000 pekerjaan.

Meski ditutup di posisi lebih tinggi, penguatan ketiga indeks saham utama Wall Street tersebut terkikis menyusul laporan adanya ledakan di Baghdad.

Baik indeks S&P 500 dan Nasdaq mencapai rekor level tertingginya dalam sesi perdagangan Rabu, tetapi ketiga indeks kemudian memangkas kenaikannya menyusul laporan dua ledakan yang terdengar di Baghdad.

Pascapenutupan perdagangan, pihak militer Irak menginformasikan bahwa telah jatuh dua roket di dalam Zona Hijau Baghdad kendati tidak menimbulkan korban.

“Komentar terukur dari pemerintahan Trump yang berpotensi mengurangi reaksi perseteruan adalah sesuatu yang positif, tetapi pasar akan bereaksi terhadap setiap kabar tentang meningkatnya ketegangan di Timur Tengah,” terang Chris Zaccarelli, kepala investasi di Independent Advisor Alliance, North Carolina.

Pasar global telah diguncang oleh kekhawatiran tentang meningkatnya ketegangan di Timur Tengah pascakematian Mayor Jenderal Iran Qasem Soleimani akibat serangan AS di Irak pada 3 Januari.

Kematian Soleimani menarik amarah Iran yang kemudian melancarkan serangan balasan terhadap pangkalan militer AS di Irak pada 8 Januari.

Sementara itu, saham Boeing melorot 1,8 persen setelah sebuah pesawat produksinya 737-800 milik maskapai penerbangan Ukraina jatuh tak lama usai lepas landas dari Iran dan menewaskan seluruh penumpangnya.

 

Harga Minyak Longsor Usai Melonjak, Ini Penyebabnya

Harga minyak mentah tak mampu mempertahankan lonjakannya dan berakhir turun tajam pada perdagangan Rabu (8/1/2020), di tengah tanda-tanda de-eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.

Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak Brent untuk kontrak Maret 2020 ditutup anjlok US$2,83 di level US$65,44 per barel di ICE Futures Europe Exchange setelah sempat melonjak hingga ke level US$71,75.

Adapun harga minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Februari 2020 turun terjerembab US$3,09 dan berakhir di level US$59,61 per barel di New York Mercantile Exchange.

Dalam pernyataannya di Gedung Putih untuk menanggapi serangan rudal Iran ke pangkalan militer AS di Irak, Presiden AS Donald Trump mengungkapkan bahwa serangan itu tidak menimbulkan korban dan bahwa pemerintah Iran tampak akan menyudahi aksinya.

“Konflik [AS-Iran] tetap terbatas pada dimensi militer dan memasuki tahap de-eskalasi,” ujar Pavel Molchanov, seorang analis di Raymond James & Associates Inc.

“Dengan demikian, tidak ada prospek dampak yang akan segera terjadi pada pasokan minyak,” terangnya dalam sebuah catatan, seperti dilansir dari Bloomberg.

Harga minyak acuan global Brent di London sempat melonjak menghampiri level US$72 per barel setelah Iran menembakkan sejumlah ke dua fasilitas militer AS di Irak pada Rabu (8/1) pagi waktu Baghdad.

Serangan itu dilancarkan sebagai pembalasan atas tewasnya Jenderal Iran Qasem Soleimani akibat serangan udara AS di Irak pada 3 Januari. Tensi antara AS dan Iran telah berkobar sejak AS kembali menjatuhkan sanksi terhadap Iran atas program nuklirnya pada tahun lalu.

Sementara itu, melalui akun Twitter, Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif mengatakan bahwa Iran telah “mengambil langkah-langkah proporsional dalam pembelaan diri” dan tidak berupaya melakukan “eskalasi atau perang”.

Terlepas dari ketegangan yang terjadi di Timur Tengah, pasokan minyak dari kawasan ini terus mengalir tanpa hambatan.

“Tidak ada setetes pasokan minyak pun yang hilang karena insiden baru-baru ini dan itulah sebabnya harga minyak begitu cepat turun kembali,” jelas Bjarne Schieldrop, kepala analis komoditas di SEB AB.

Menambah sentimen negatif untuk pasar minyak, harga komoditas ini turun lebih lanjut setelah total persediaan minyak AS dilaporkan melonjak hampir 15 juta barel pekan lalu.

Harga minyak juga longsor setelah sejumlah pejabat Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) berjanji untuk menjaga pasokan tetap mengalir ke para pembeli.

“Kami tidak memperkirakan kekurangan pasokan kecuali ada eskalasi bencana, yang tidak kami lihat,” ujar Menteri Energi Uni Emirat Arab Suhail Al Mazrouei di Abu Dhabi.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal OPEC Mohammad Barkindo mengutarakan optimismenya bahwa para pemimpin akan melakukan segala yang mungkin untuk memulihkan keadaan normal.

 

Tensi AS-Iran Mengendur, Harga Emas Turun

Harga emas terpeleset dari penguatannya dan turun di tengah tanda-tanda de-eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.

Dalam pernyataannya di Gedung Putih untuk menanggapi serangan rudal Iran ke pangkalan militer AS di Irak, Presiden AS Donald Trump mengungkapkan bahwa serangan itu tidak menimbulkan korban dan bahwa pemerintah Iran tampak akan menyudahi aksinya.

Sementara itu, melalui akun Twitter, Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif mengatakan bahwa Iran telah “mengambil langkah-langkah proporsional dalam pembelaan diri” dan tidak berupaya melakukan “eskalasi atau perang”.

Baik pernyataan Trump maupun Iran tersebut serta merta meredakan kekhawatiran terjadinya konflik lebih lanjut antara AS dan Iran yang sempat mendorong rally emas sebelumnya.

Berdasarkan data Bloomberg, harga emas untuk kontrak Februari 2020 melemah 0,9 persen ke level US$1.560,20 per troy ounce pada Rabu (8/1/2020) pukul 1.30 siang di bursa Comex New York, mematahkan rangkaian rally 10 hari sebelumnya.

Sebelum tergelincir, emas sempat melonjak menembus level US$1.600 per troy ounce, level tertingginya dalam sekitar enam tahun, setelah Iran meluncurkan sejumlah rudal ke pangkalan udara AS-Irak pada Rabu (8/1/2020) pagi waktu Baghdad.

Serangan itu dilancarkan sebagai pembalasan atas tewasnya Jenderal Iran Qasem Soleimani akibat serangan udara AS di Irak pada 3 Januari yang menewaskan Jenderal Iran Qasem Soleimani.

Tensi antara AS dan Iran sendiri telah berkobar sejak AS kembali menjatuhkan sanksi terhadap Iran atas program nuklirnya pada tahun lalu.

“Penurunan emas merupakan reaksi terhadap serangan Iran yang kini tampak jelas menjadi de-eskalasi, dan pihak Trump sepertinya menangkap hal itu,” terang Tai Wong, kepala perdagangan derivatif logam di BMO Capital Markets.

Sepanjang 2019, harga emas di pasar spot mencatat prestasi dengan kenaikan sekitar 18 persen, kenaikan tahunan terbesar sejak 2010.

Kebijakan moneter yang lebih longgar oleh bank-bank sentral dan melambatnya pertumbuhan global adalah beberapa di antara faktor pendorong emas sepanjang 2019.

Minat investor untuk aset investasi aman (safe haven) ini semakin terangkat pascakematian Soleimani dan kekhawatiran eskalasi konflik di Timur Tengah.

“Emas pada dasarnya bereaksi atas lingkungan yang menghindari risiko,” tutur Bart Melek, kepala strategi komoditas di TD Securities. “Tidak korban dari pihak AS [akibat serangan Iran], dan presiden [Trump] menegaskan akan membalas jika terdapat korban di pihak AS.”

 

Serangan Iran ke Pangkalan AS di Irak Bikin Bursa Global, Emas & Minyak Bergejolak

© Reuters.

Pasar keuangan global bergejolak pada hari Rabu (08/01) setelah Iran menembakkan rudal-rudalnya ke markas pasukan Amerika Serikat di Irak. Hal tersebut memicu terpukulnya bursa saham Asia dan mendorong harga minyak bergerak naik lantaran investor menjadi khawatir bakal meluasnya konflik di Timur Tengah.

Menurut laporan yang dilansir Reuters Rabu (08/01) petang, serangan rudal Iran di pangkalan udara Ain Al-Asad dan serangan lainnya di Erbil, Irak, pagi setempat muncul beberapa jam setelah pemakaman komandan Iran yang tewas dalam serangan pesawat tanpa awak AS telah meningkatkan ketegangan di wilayah tersebut.

Laporan awal serangan itu mendorong meningkatnya aksi penghindaran risiko terkait kekhawatiran tentang bagaimana Amerika Serikat akan merespons. Tetapi selanjutnya, bursa Asia kembali memangkas penurunan yang ada.

Presiden AS Donald Trump mengatakan dalam cuitan di twitter Selasa bahwa perkiraan korban dan kerusakan dari serangan itu tengah berlangsung dan ia akan membuat pernyataan pada Rabu pagi setempat. Trump berkata bahwa “Semua baik-baik saja!” dan “Sejauh ini, sangat bagus!”.

Indeks MSCI yang terdiri dari saham-saham Asia Pasifik selain Jepang melemah 0,5% sekitar pukul 04.45 GMT setelah mengalami penurunan lebih dari 1% pada hari sebelumnya. Indeks blue-chip Cina CSI300 beranjak melemah 0,48%.

Indeks Nikkei 225 Jepang jatuh sebesar 1,29%, juga memangkas kerugian sebelumnya lebih dari 2%. Sementara saham-saham Australia kembali bergerak naik dari penurunan 1% lebih menjadi 0,18%. Kontrak e-mini berjangka S&P500 AS, yang sebelumnya jatuh hampir 1,7%, turun sebesar 0,28%.

Di pasar komoditas, minyak mentah berjangka acuan global yakni Minyak Brent Berjangka melonjak lagi di atas $70 per dolar ke level tertinggi sejak pertengahan September 2019 pada awal setelah serangan Iran.

Brent terakhir naik 1,36% di $69,20 per barel, sementara minyak mentah AS bertambah 1,26% menjadi $63,49 per barel.

XAU/USD juga koreksi di bawah level psikologis kunci $1.600 setelah kekhawatiran pasar mulai mereda. Logam mulia menguat sebesar 1,16% di pasar spot sekitar $1.592,18 per ons, setelah sebelumnya menembus level $1.600.

 

Mampu Hantam AS, China Luncurkan Rudal Hipersonik DF-26

China telah melenturkan otot militernya dengan meluncurkan rudal hipersonik DF-26 dalam sebuah latihan militer yang mengerikan. Misil yang bisa membawa hulu ledak nuklir ini memiliki kemampuan untuk menghantam wilayah Amerika Serikat (AS) di Pasifik.

Militer China tak mengungkap lokasi dan kapan peluncuran misil hipersonik itu dilakukan. Namun, rekaman video yang dirilis media pemerintah hari Rabu menunjukkan DF-26 melesat dan meledak di langit setelah diluncurkan dari landasan peluncuran mobile.

Rekaman itu dirilis oleh Pasukan Roket, bagian dari Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) yang menangani persenjataan rudal masif militer Presiden Xi Jinping.

“Roket ini naik ke langit seperti naga raksasa yang menyala, menembus kabut dan awan, dan menyerbu ke arah ruang yang luas,” kata Pasukan Roket PLA dalam rilisnya, seperti dilansir dari Global Times, Kamis (9/1/2020).

DF-26 atau Dongfeng-26 dapat mencapai kecepatan maksimum Mach 18 atau 18 kali lebih cepat dari kecepatan suara. Misil ini mampu melakukan perjalanan 2.000 mil, kemampuan yang cukup untuk menjangkau pangkalan militer Amerika Serikat di Guam. Senjata Beijing ini dijuluki sebagai misil “Guam Killer”.

Misil itu dapat membawa hulu ledak konvensional atau pun nuklir, dan satu variannya dilaporkan mampu menghancurkan kapal induk di laut terbuka. Senjata China ini muncul pertama kali di depan umum pada September 2015, yakni selama parade militer di Beijing untuk menandai peringatan 70 tahun berakhirnya Perang Dunia II.

 

Presiden Iran: Kami Akan Tendang Semua Pasukan AS dari Timur Tengah!

Presiden Iran Hassan Rouhani buka suara terkait serangan rudal terhadap pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di Irak. Menurutnya, mengusir militer AS dari Irak dan wilayah sekitarnya akan menjadi tujuan utama Iran sebagai pembalasan terhadap pembunuhan Qassem Soleimani.

Rouhani mengatakan Soleimani melakukan kampanye heroik anti-teror melawan Negara Islam (IS, sebelumnya ISIS) dan al Qaeda. Ia menambahkan bahwa negara-negara Eropa akan berada dalam bahaya besar sekarang jika bukan karena upaya komandan Iran itu.

“Jawaban terakhir kami untuk pembunuhannya adalah menendang semua pasukan AS keluar dari wilayah ini,” katanya seperti dikutip dari Russia Today, Rabu (8/1/2020).

Iran menargetkan pangkalan AS di Irak dengan rentetan rudal balistik jarak pendek pada Rabu dini hari. Pemimpin Spiritual Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menggambarkan serangan rudal itu sebagai “tamparan di wajah” untuk Amerika Serikat. Meski begitu ia mengatakan bahwa serangan itu tidak cukup untuk menghilangkan kehadiran AS yang korup di wilayah tersebut.

Beberapa negara Eropa telah mengumumkan penarikan pasukan parsial dari Irak, dengan alasan masalah keamanan. Sementara Parlemen Irak mengeluarkan resolusi tidak mengikat yang menyerukan agar semua pasukan asing meninggalkan negara mereka. Seruan itu dikeluarkan beberapa hari setelah serangan pesawat tak berawak AS menewaskan Soleimani di Baghdad. Washington telah mengancam Irak dengan sanksi jika terpaksa meninggalkan negara itu atas kehendaknya.

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Close Menu