Bursa AS Berakhir Variatif

Bursa AS Berakhir Variatif

Hot News Market Hari Ini

( Selasa, 10 September 2019 )

Bursa AS Berakhir Variatif, Ini Sentimen Penggeraknya

Bursa saham Amerika Serikat cenderung variatif pada perdagangan Senin (9/9/2019) karena meningkatnya ekspektasi stimulus dari bank sentral di seluruh dunia diimbangi oleh pelemahan sektor teknologi dan layanan kesehatan.

Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup menguat 38,05 poin atau 0,14 persen ke level 26.835,51, sedangkan indeks Standard & Poor’s 500 melemah 0,28 poin atau 0,01 persen ke 2.978,43 dan Nasdaq Composite turun 15,64 poin atau 0,19 persen ke 8.087,44.

Indeks sektor finansial S&P 500 menguat 1,5 persen, dengan sektor perbankan menguat 3,2 persen dan imbal hasil obligasi Treasury AS menguat menyusul meningkatnya ekspektasi pemotongan suku bunga pada pertemuan Federal Reserve AS September mendatang.

Sebelumnya, Gubernur The Fed Jerome Powell mengatakan akhir pekan lalu bahwa bank sentral akan “bertindak dengan sesuai” untuk mempertahankan ekspansi ekonomi. Ungkapan ini diartikan pasar sebagai tanda penurunan suku bunga yang akan datang.

“Ini semacam pusat badai, karena investor menunggu lebih banyak berita tentang suku bunga atau perdagangan,” kata Paul Nolte, manajer portofolio di Kingsview Asset Management, seperti dikutip Reuters.

Tetapi, Nolte mengingatkan bahwa pasar perlu hal nyata dalam perdagangan agar dapat bergerak jauh lebih tinggi dari level ini.

Saham menguat pekan lalu sebagian besar karena meredanya kekhawatiran terhadap negosiasi perdagangan AS-China.

Minggu ini, Bank Sentral Eropa diperkirakan akan memperkenalkan langkah-langkah stimulus baru pada pertemuan kebijakan hari Kamis mendatang.

“Pasar menyerap keuntungan dari minggu lalu, dan sedang wait and see menjelang pertemuan Bank Sentral Eropa,” kata Quincy Krosby, kepala analis di Prudential Financial.

Sebelumnya pada hari Senin, Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin mengatakan ia tidak melihat ancaman resesi karena pemerintahan Trump berusaha untuk menghidupkan kembali negosiasi perdagangan dengan China.

Di antara saham-saham yang bergerak, saham Amgen turun 2,6 persen setelah analis mengangkat pertanyaan tentang data obat kanker paru-paru perusahaan, sementara indeks kesehatan S&P 500 turun 0,9 persen. Indeks teknologi S&P 500 berakhir turun 0,7 persen.

Sementara itu, saham Boeing Co turun 1,2 persen setelah menunda pengujian beban pesawat 777X widebody selama akhir pekan karena laporan media mengatakan pintu kargo gagal dalam tes tegangan darat.

Bursa Inggris Merah, Indeks Stoxx Ditutup Berbalik Melemah

Bursa saham Eropa ditutup melemah pada perdagangan Senin (9/9/2019) setelah indeks FTSE Inggris jatuh karena penguatan poundsterling, sementara penjualan di sektor-sektor defensif seperti perawatan kesehatan dan utilitas mengurangi kenaikan awal di pasar.

Setelah naik sebanyak 0,2 persen menyusul kenaikan mengejutkan dalam ekspor Jerman dan harapan stimulus dari Bank Sentral Eropa akhir pekan ini, indeks Stoxx Europe 600 berbalik ke zona merah seiring berlalunya hari.

Indeks ditutup melemah 0,28 persen atau 1,08 poin ke level 386,06, mengakhiri reli penguatan tiga hari berturut-turut, setelah saham FTSE 100 Inggris turun 0,6 persen.

Dilansir Reuters, bursa saham Inggris melemah menyusul penguatan poundsterling di tengah optimisme bahwa Inggris tidak akan keluar dari Uni Eropa tanpa kesepakatan.

Namun, sebagian besar investor melihat menantikan pertemuan kebijakan ECB pada hari Kamis (12/9), ketika bank sentral diharapkan memperkenalkan gelombang baru stimulus moneter.

Indeks perbankan Eropa, yang menjadi salah satu sektor berkinerja terburuk tahun ini, naik 2,2 percen hingga mencapai level tertinggi dalam leih dari satu bulan terakhir.

Indeks telah pulih dari posisi terendah dalam 8 tahun terakhir yang dicapai pada pertengahan Agustus di tengah pemulihan luas pada harapan resolusi sengketa perdagangan AS dan China dalam beberapa pekan terakhir, titambah dengan penurunan ekspektasi langkah-langkah pelonggaran agresif dari ECB.

“Retorika dari ECB menunjukkan bahwa pasar mungkin melebih-lebihkan ukuran kebijakan pelonggaran moneter dan bank sentral mungkin meningkatkan ukuran pembelian aset, sementara secara bersamaan memotong suku bunga,” tulis analis Morgan Stanley, seperti dikutip Reuters.

Indeks perbankan Italia menguat sekitar 0,2 persen, dengan saham Santander naik 2,4% setelah bank asal Spanyol ini mengatakan akan meningkatkan kepemilikannya atas unit usahanya di Meksiko menjadi 91,65 persen setelah penawaran umum perdana.

Sementara itu, produsen mobil melonjak 2 persen setelah data ekspor Jerman yang optimis pada bulan Juli, sementara berkurangnya kemungkinan no-deal Brexit membantu produsen mobil Jerman karena Inggris merupakan pasar ekspor utama.

Di sisi lain, saham sektor defensif termasuk kesehatan, makanan dan minuman dan utilitas ditutup melemah sekitar 1,7 persen dan membebani indeks Stoxx.

Saham Air France tergelincir 10 persen menyusul kinerja bulan Agustus yang mengecewakan, sementara IAG turun 1,5 persen karena pilot British Airways memulai aksi mogok mereka.

Menteri Baru Saudi Tegaskan Kesepakatan OPEC, Minyak Mentah Menguat

Harga minyak mentah melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari satu bulan terakhirkarena investor diyakinkan bahwa OPEC dan sekutunya akan terus memangkas produksi untuk membantu menyeimbangkan pasar minyak global.

Minyak West Texas Intermediate untuk pengiriman Oktober menguat 0,43 persen atau 0,25 poin ke level US$58,10 pada pukul 06.13 WIB perdagangan Selasa (10/9/2019), setelah ditutup menguat 2,4 persen atau 1,33 poin ke level US$57,85 per barel di New York Mercantile Exchange pada Senin.

Sementara itu, minyak Brent untuk kontrak November menguat 1,71 persen atau 1,05 poin dan ditutup di posisi US$62,59 per barel pada perdagangan Senin di ICE Futures Europe Exchange.

Dilansir Bloomberg, harga minyak menguat setelah Menteri Energi Arab Saudi yang baru diangkat Pangeran Abdulaziz bin Salman mengatakan tidak akan ada perubahan signifikan dalam kebijakan OPEC+.

Komite inti OPEC+ akan bertemu di Abu Dhabi minggu ini untuk meninjau kemajuan kesepakatan pemangkasan produksi minyak mentah. Sementara itu, investor juga fokus pada apakah nasib perundingan perdagangan AS dan China menjelang pertemuan pada bulan Oktober.

“Sebagian besar penguatan berasal dari berita Saudi. Tapi ada juga sejumlah optimisme dari perjanjian perdagangan di pertemuan yang akan datang,” kata Phil Streible, analis pasar senior RJO Futures.

Minyak mentah di New York naik untuk sesi kelima berturut-turut di tengah optimisme seputar kebijakan OPEC. Menteri energi Uni Emirat Arab menjanjikan dorongan untuk membuat semua anggota berkomitmen untuk mengekang pasokan.

Sementara itu, menteri perminyakan Irak mengatakan baru-baru ini ada peningkatan produksi minyak karena permintaan domestik untuk listrik dan akan memompa lebih sedikit dalam beberapa bulan mendatang.

“Meskipun tidak ada perubahan radikal dalam kebijakan minyak, perkembangan selama akhir pekan terus menggarisbawahi komitmen Saudi untuk menstabilkan pasar dan mendorong harga lebih tinggi,” kata Michael Tran, analis komoditas di RBC Capital Markets.

Sebelum diangkat menjadi menteri, Pangeran Abdulaziz pernah menjabat sebagai deputi menteri selama belasan tahun dan dan menjadi menteri negara untuk energi sejak 2017.

 

 

Harga Emas Turun, Sentuh Level 1500 Akibat Bangkitnya Minat Risiko

Harga emas masih melanjutkan penurunan, setelah merosot tajam di akhir pekan lalu pasca pidato Ketua The Fed. Selasa (10/September) dini hari ini, harga emas turun lagi ke level rendah tiga pekan akibat menguatnya pasar ekuitas. XAU/USD turun 0.33 persen ke 1,501.70, level terendah sejak tanggal 22 Agustus.

Sementara itu, harga emas di bursa Comex New York turun 0.5 persen ke harga $1,508.55 per troy ounce. Sedangkan harga emas spot malah sudah menyentuh level $1,500.16, setelah turun setengah persen di sesi perdagangan sebelumnya.

Bangkitnya Ekuitas Pasca Pidato Powell

Minat risiko bangkit akibat pidato Ketua The Fed Jerome Powell yang mengesampingkan kemungkinan terjadinya resesi ekonomi. Powell juga menuturkan bahwa bank sentral akan bertindak dengan sesuai, untuk mempertahankan ekspansi ekonomi AS. Pernyataan Powell tersebut disambut dengan kenaikan yield obligasi US Treasury ke 2.12 persen awal pekan ini.

Meski demikian, para analis memandang penurunan harga emas kali ini sebagai sebuah ancang-ancang untuk rebound. Benjamin Lu, analis dari Philip Futures mengatakan bahwa minat risiko global yang sedang diperbarui, memang melemahkan sejumlah aset safe haven termasuk emas, untuk sementara.

“Kita sedang melihat pelemahan harga emas dalam jangka pendek. Namun, dalam jangka panjang, pergerakan harga emas masih bullish,” kata Lu.

Berkurangnya Pembelian Emas Oleh Bank Sentral China

Selain karena pasar ekuitas, melemahnya harga emas ditengarai karena mulai surutnya aksi beli. Menurut Investing.com, bukti-buntui terbaru menunjukkan bahwa arus beli emas dari bank-bank sentral, khususnya bank sentral China, mulai mengecil. Padahal, reli harga emas yang terjadi sebelumnya, juga mendapat kontribusi dari aksi beli tersebut.

Bank sentral China menaikkan kepemilikan emas menjadi 62.45 juta ons pada bulan Agustus 2019, dari 62.26 juta ons di bulan sebelumnya. Namun demikian, rata-rata pembelian hanya 5.91 ton emas, berkurang dua kali lipat dari rata-rata 11.75 ton di bulan-bulan sebelumnya sejak Desember.

 

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Close Menu