AS Enggan Cabut Tarif Impor, Wall Street Melemah

AS Enggan Cabut Tarif Impor, Wall Street Melemah

Hot News Market Hari Ini

( Rabu, 15 Januari 2020 )

Tensi Geopolitik Stabil, Minyak Mentah Menguat

Harga minyak mentah menguat di tengah kembali stabilnya pasar komoditas setelah diterpa gejolak geopolitik dalam sepekan terakhir.

Harga minyak mentah WTI untuk pengiriman Februari menguat 0,15 poin ke level US$58,23 per barel di New York Mercantile Exchange pada akhir perdagangan Selasa (14/1), setelah sebelumnya menyentuh level intraday terendah sejak 6 Desember di US$57,72.

Sementara itu, Brent berjangka untuk kontrak Maret menguat 0,49 poin ke level US$64,69 per barel di ICE Futures Europe exchange, setelah turun 1,2 persen pada hari Senin.

Dilansir Bloomberg, meredanya ketegangan politik di Timur Tengah mendorong fokus investor ke jeda permintaan pasca-musim dingin yang akan datang. Minyak AS untuk pengiriman cepat diperdagangkan lebih rendah untuk pertama kalinya sejak November, tren yang dikenal sebagai contango yang biasanya mencerminkan di pasar penjualan langsung.

“Tampaknya ada beberapa short-covering dan pembelian setelah aksi jual selama beberapa hari terakhir,” kata Gene McGillian, manajer riset pasar di Tradition Energy, seperti dikutip Bloomberg.

“Minyak turun cukup banyak sejak puncak krisis AS-Iran yang dimulai dengan terbunuhnya seorang jendral Iran oleh AS,” lanjutnya.

Fundamental pasar menunjukkan sejumlah tren penguatan. Impor minyak China mencapai rekor tertinggi tahun lalu, pakta perdagangan antara AS-China yang dapat meningkatkan permintaan, dan gencatan senjata antara faksi-faksi di negara OPEC, Libya, telah  berakhir.

Namun, ada kekhawatiran mengenai permintaan yang muncul dari sengketa perdagangan AS-China yang sedang berlangsung bahkan jika fase awal perjanjian telah tercapai.

Tarif impor barang China yang masuk ke AS kemungkinan akan tetap berlaku hingga setelah pemilihan presiden AS dan setiap langkah pengurangan akan bergantung pada kepatuhan Beijing dengan ketentuan-ketentuan perjanjian perdagangan fase pertama.

 

 

 

AS Enggan Cabut Tarif Impor, Wall Street Melemah

Bursa saham Amerika Serikat melemah pada perdagangan Selasa (14/1/2020), membalikkan rekor intraday tertinggi sebelumnya.

Pelemahan .enyusul laporan bahwa AS kemungkinan akan mempertahankan tarif barang-barang China hingga pemilihan presiden pada November.

Dilansir dari Reuters, penghapusan tarif oleh Washington akan tergantung pada kepatuhan Beijing terhadap perjanjian perdagangan fase pertama yang diperkirakan akan ditandatangani pada hari Rabu (15/1).

Joe Saluzzi, co-manager Themis Trading mengatakan, dengan indeks S&P 500 mencapai rekor tertinggi atau setara dengan sekitar 18 kali rasio harga saham terhadap pendapatan, pelaku pasar menafsirkan laporan tersebut sebagai alasan untuk melakukan aksi jual.

“Kami berada di pasar Jason Bourne. Hal pertama yang dilakukan Jason Bourne ketika dia masuk ke sebuah ruangan adalah mencari pintu keluar, untuk berjaga-jaga,” kata Saluzzi, seperti dikutip Reuters.

Dow Jones Industrial Average ditutup menguat 0,11 persen ke level 28.939,67 poin, sedangkan indeks S&P 500 kehilangan 0,15 persen ke level 3.283,15. Sementara itu, indeks Nasdaq Composite turun 0,24 persen ke 9.251,33.

Ketiga indeks sempat menyentuh rekor tertinggi intraday sebelum kehilangan posisi di perdagangan sore. Wall Street telah melonjak dalam beberapa pekan terakhir, dipicu oleh optimisme bahwa gencatan perang dagang AS-China akan meningkatkan pendapatan perusahaan.

China telah berjanji untuk membeli barang-barang manufaktur dari AS senilai hampir US$ 80 miliar selama dua tahun ke depan dan pasokan energi senilai lebih dari US$ 50 miliar.

Mengawali musim pendapatan kuartal keempat, JPMorgan Chase & Co naik 1,2 persen setelah melaporkan laba yang lebih baik dari perkiraan menyusul kekuatan dalam perdagangan dan bisnis penjaminan.

Wells Fargo & Co merosot 5,4 persen setelah melaporkan penurunan laba karena menyisihkan US$1,5 miliar untuk biaya hukum. Citigroup Inc menguat 1,6 persen karena melampaui estimasi laba Wall Street.

Analis memperkirakan laba emiten S&P 500 turun 0,5 persen untuk kuartal kedua berturut-turut, menurut data Refinitiv IBES, sebagian besar karena hambatan dalam sektor energi dan laba industri yang telah terpukul oleh perang perdagangan yang berkepanjangan.

Dow Jones Industrial Average ditutup menguat 0,11 persen ke level 28.939,67, sedangkan indeks S&P 500 kehilangan 0,15 persen ke level 3.283,15. Sementara itu, indeks Nasdaq Composite turun 0,24 persen ke 9.251,33.

Wakil PM Cina Bakal Tandatangani Kesepakatan Dagang di Washington Pekan Depan

© Reuters.

Investing.com – Wakil Perdana Menteri Cina Liu He sekaligus sebagai kepala tim perundingan dagang Cina untuk Amerika Serikat bakal menandatangani kesepakatan “Tahap 1” di Washington minggu depan, Kementerian Perdagangan Cina menyatakan Kamis (09/01).

Liu akan mengunjungi Washington pada 13-15 Januari, ungkap Gao Feng, juru bicara Kementerian Perdagangan Cina sebagaimana dilansir Reuters Kamis (09/01) petang.

Tim perunding kedua belah pihak terus menjalin komunikasi erat mengenai hal-hal khusus terkait penandatanganan, Gao menyampaikan kepada awak media.

Presiden AS Donald Trump mengatakan pada 31 Desember silam bahwa kesepakatan Tahap 1 dengan Cina akan ditandatangani pada 15 Januari di Gedung Putih. Trump juga mengatakan ia akan menandatangani kesepakatan dengan “perwakilan tingkat tinggi Cina” dan ia kemudian bakal pergi ke Beijing untuk memulai perundingan tahap berikutnya.

Jelang Kesepakatan Dagang, AS Adakan Pembahasan Trilateral di Washington

Para pejabat perdagangan senior dari Amerika Serikat, Jepang dan Uni Eropa akan berkumpul di Washington pada hari Selasa untuk membahas kebijakan perdagangan dan subsidi yang tidak berorientasi pasar, sehari sebelum Washington dan Beijing menandatangani kesepakatan perdagangan tahap satu.

Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer hari Senin bertemu dengan Menteri Perdagangan Jepang Hiroshi Kajiyama, dan dijadwalkanbertemu untuk pembicaraan bilateral dengan Komisaris Perdagangan Uni Eropa Phil Hogan pada hari Kamis, kata juru bicara USTR.

Acara pada hari Rabu dengan agenda utama penandatanganan perjanjian perdagangan tahap satu antara Amerika Serikat dan Cina bertujuan meredakan perang tarif selama 18 bulan yang telah mengguncang pasar keuangan dan melambatkan pertumbuhan global.

Ekonom dan pakar top mengatakan kesepakatan perdagangan tahap satu antara AS-Cina menandai langkah maju yang positif, tetapi menyisakan banyak tantangan signifikan untuk diselesaikan.

Isu-isu utama sengketa bilateral, termasuk subsidi Cina untuk perusahaan milik negara, perdagangan digital dan keamanan siber, masih harus diatasi, tetapi tidak jelas apakah perundingan tahap dua akan bisa diselesaikan sebelum pemilihan presiden AS pada bulan November 2020.

Uni Eropa dan Jepang berbagi banyak kekhawatiran Amerika Serikat tentang masalah-masalah itu dan perilaku Cina di pasar global, tetapi Tokyo dan Brussels telah bersikap defensif dengan tarif yang diancam dan diberlakukan oleh Presiden Donald Trump.

Jepang mencapai kesepakatan perdagangannya sendiri dengan Amerika Serikat pada bulan September.

Sementara ketegangan antara Washington dan Brussels tetap tinggi setelah Washington pada Desember mengancam akan mengenakan tarif 100% atas barang-barang Prancis sebagai balasan atas penerapan pajak layanan digital Prancis, dan untuk meningkatkan tarif pada sejumlah produk asal Eropa kecuali kedua pihak dapat menyelesaikan sengketa lama mengenai subsidi pesawat.

 

Misi Fed Kendalikan Tingkat Bunga Acuan Dapat Picu Perubahan Lain

Investing.com – Suku bunga acuan yang menjadi fokus Federal Reserve untuk mengendalikan penerapan kebijakan moneter telah bergerak mendekati batas bawah dari kisaran sasaran bank sentral Amerika Serikat ini. Hal tersebut meningkatkan prospek bahwa bank sentral AS akan menyesuaikan salah satu perangkat terkait pada akhir bulan ini.

Menurut laporan yang dilansir Bloomberg Selasa (14/01) pagi, tingkat suku bunga The Fed efektif telah bergerak relatif turun terhadap batasannya sejak The Fed memulai serangkaian operasi perjanjian pembelian kembali dan pembelian surat utang negara untuk memadamkan gejolak pendanaan pasar. Pergolakan di bulan September secara singkat melihat tingkat dana fed naik di atas batas atas kisaran, tetapi langkah-langkah menggelontorkan dana besar uang tunai yang tersedia pada pergantian tahun membantu menurunkan gejolak tersebut.

Tingkat suku bunga The Fed efektif turun menjadi 1,54% pada hari Jumat dari 1,55% sehari sebelumnya, menurut data The New York Fed yang dirilis Senin. Itu menempatkan tingkat ini bernilai hanya empat basis poin di atas level ekstrem bawah sasaran Fed dari 1,50% menjadi 1,75%. Tingkat tersebut merupakan kesenjangan terkecil sejak bank sentral mulai menargetkan kisaran daripada tingkat tunggal lebih dari satu dekade yang lalu

Boris Johnson Minta Trump Ganti Kesepakatan Nuklir Iran dengan yang Baru

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson meminta Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengganti perjanjian nuklir Iran dengan perjanjian baru. Hal itu menurut Johnson dilakukan guna memastikan bahwa Iran tidak akan mendapatkan senjata nuklir.

“Jika kita menyingkirkannya, mari kita ganti, dan mari kita ubah dengan kesepakatan (versi) Trump,” ujar Johnson tentang kesepakatan pengendalian senjata nuklir 2015 atau Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) dengan Teheran. Johnson mengatakan, langkah itu akan menjadi cara yang baik untuk maju.

“Presiden Trump adalah pembuat kesepakatan yang hebat, dengan caranya sendiri. Mari kita bekerja sama untuk menggantikan JCPOA dan mendapatkan kesepakatan Trump sebagai gantinya,” ujar Johnson dalam wawancara dengan BBC disadur Reuters, Selasa (14/1/2020).

Di bawah JCPOA, Teheran bersama enam negara, AS, Cina, Prancis, Jerman, Rusia, dan Inggris setuju untuk membatasi kegiatan nuklirnya. Namun, pada 2018, Trump menarik diri dari JCPOA itu.

Negara kekuatan Eropa menegaskan masih mendukung kesepaktan nuklir 2015, meski Teheran mengumumkan akan meninggalkan batasan guna memperkaya uranium, yang jelas memperburuk JCPOA.

 

“Jika Anda menyingkirkan kesepaktan nuklir ini, JCPOA, itulah yang diinginkan Trump. MAksud saya kepada teman-teman Amerika kami adalah, lihat, entah bagaimana Anda harus menghentikan Iran memperoleh senjata nuklir,” ujar Johnson.

“Dari sudut pandang AS, JCPOA adalah perjanjian yang cacat, dan berakhir, ditambah itu dinegosiasikan era-Presiden Obama. Dari sudut pandang mereka, ada banyak kesalahan,” ujarnya.

Penasihat Gedung Putih Kellyanne Conway mengatakan, Trump meyakini dirinya masih bisa menegosiasikan kembali kesepakatan nuklir baru dengan Iran.  “Saya tidak ingin konflik militer antara kami, AS dan Iran, mari kita hentikan hal ini,” ujar Johnson.

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Close Menu