AS-China Segera Teken Kesepakatan, Bursa Asia Kompak Menguat

AS-China Segera Teken Kesepakatan, Bursa Asia Kompak Menguat

Hot News Market Hari Ini

( Senin, 04 November 2019 )

Clarida The Fed: Tiga Kali Rate Cut Sudah Cocok Bagi Ekonomi AS

Tiga pemotongan suku bunga yang telah diimplementasikan oleh Federal Reserve AS tahun ini, akan membuat ekonomi AS lebih tangguh dalam menghadapi risiko-risiko perlambatan global. Pernyataan tersebut diungkapkan oleh Wakil Ketua The Fed, Richard Clarida, dalam wawancaranya dengan Bloomberg di hari Jumat (01/November) malam ini. Clarida menyasar laporan-laporan ketenagakerjaan yang dinilainya positif, dan data perumahan yang membuktikan bahwa ekonomi AS “tahan banting” menghadapi potensi dampak buruk perang dagang dan perlambatan pertumbuhan global. calrida “Kita telah selesai melakukan penyesuaian,” kata Clarida. “Saya malah akan kurang yakin dengan perekonomian AS, jika kita tidak mengambil keputusan penyesuaian (suku bunga) dengan total 75 basis poin tersebut,” imbuhnya. Clarida mengatakan bahwa The Fed masih bekerja keras untuk menambah rekor pemulihan ekonomi terpanjang AS. Para pejabat bank sentral AS pun sepakat untuk menurunkan suku bunga seperempat persen ke 1.5 – 1.75 persen pekan ini. Menurut Clarida, langkah tersebut dapat memberikan pengaruh yang lebih besar pada perekonomian di akhir tahun ini dan di awal kuartal 2020. Selain itu, Clarida menggarisbawahi para pembuat kebijakan yang sudah jelas menyampaikan bahwa ekspansi ekonomi AS masih punya ruang untuk berjalan. Buktinya, ekonomi AS tak terlambat dalam siklus bisnis, dan sektor konsumen pun belum pernah terbentuk sebagus ini. Walaupun demikian, Clarida mengatakan bahwa bank sentral tetap akan mengawasi data dan mempertimbangkan lebih banyak pelonggaran, jika terdapat pelemahan dalam ketenagakerjaan, inflasi, dan pertumbuhan. Pernyataan pejabat Fed tersebut mengonfirmasi pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell kemarin, pasca pengumuman kebijakan moneter The Fed. Sedangkan ketika ditanya soal pembelian Treasury Bills dalam jangka pendek, Clarida membantah jika itu adalah Quantitative Easing. “Ini bukan QE,” katanya. “Jika bank sentral tidak menumbuhkan Balance Sheet mereka secara organik, maka akan menimbulkan masalah dalam likuiditas,” demikian ungkap Clarida

 

 

Emas Tunggu Perkembangan Kesepakatan Dagang AS-China

Harga emas bergerak sideways dan ditutup pada USD1513.66 per troy ounce, atau menguat tipis 0.63% dari harga penutupan minggu sebelumnya. Logam mulia sempat melemah hingga ke level 1481 akibat optimisme pasar akan kesepakatan dagang AS-China tahap pertama, tetapi kemudian berbalik menguat setelah adanya kabar pembatalan KTT APEC di Chili, serta hasil meeting FOMC yang dianggap netral. Minggu lalu, Presiden Trump mengatakan bahwa ia akan segera menandatangani kesepakatan dagang tahap pertama. Rencana pertemuan dengan Presiden Xi Jinping adalah pada KTT APEC di Chili. Tetapi setelah KTT APEC dibatalkan, belum ada pemberitahuan lebih lanjut dari pemerintah AS maupun China. Hampir bersamaan dengan itu, The Fed kembali memangkas suku bunga acuannya sebesar 0.25% menjadi +1.50% hingga +1.75%, sesuai dengan perkiraan pasar. Meski pernyataan ketua The Fed Powell dinilai cukup hawkish, tetapi tidak memberi petunjuk arah kebijakan untuk tahun 2020, apakah akan ada pemangkasan suku bunga lagi atau mungkin ada kenaikan. Menurut Powell, The Fed belum akan menaikkan suku bunga acuan kecuali ada kenaikan yang signifikan pada tingkat inflasi. Secara keseluruhan, hasil meeting FOMC minggu lalu dianggap netral. Sementara itu, rilis beberapa data penting AS bervariasi. Data pertambahan lapangan pekerjaan (Non Farm Payrolls) yang di atas perkiraan, dikompensasi oleh pertumbuhan (GDP) kuartal ketiga yang lebih rendah dari kuartal sebelumnya, dan ISM Manufaktur serta Core PCE Price Index yang di bawah perkiraan. Minggu ini tidak ada rilis data penting dari AS, kecuali pidato beberapa pejabat The Fed. Pelaku pasar akan fokus pada perkembangan kesepakatan dagang AS-China tahap pertama. Hingga akhir minggu lalu, penandatanganan kesepakatan dagang tersebut masih diliputi oleh ketidakpastian. Dari survei yang dilakukan Kitco.com pada sejumlah trader, sekitar 50% pemain Wall Street memperkirakan emas akan netral atau sideways, 29% bullish, dan 21% memperkirakan bearish. Sementara itu, 72% pemain Main Street memperkirakan bullish, 16% bearish, dan 11% netral.

 

AS-China Segera Teken Kesepakatan, Bursa Asia Kompak Menguat

Seluruh bursa saham utama kawasan Asia kompak mengawali perdagangan pertama di pekan ini, Senin (4/11/2019), di zona hijau.
Pada pembukaan perdagangan, indeks Shanghai naik 0,22%, indeks Hang Seng menguat 0,73%, indeks Straits Times terapresiasi 0,26%, dan indeks Kospi bertambah 0,53%. Untuk diketahui, perdagangan di bursa saham Jepang diliburkan pada hari ini seiring dengan peringatan Culture Day.
Bursa saham Benua Kuning menguat seiring dengan membuncahnya optimisme bahwa AS dan China akan segera bisa meneken kesepakatan dagang tahap satu.

Menteri Perdagangan AS Wilbur Ross optimistis bahwa kesepakatan dagang tahap satu antara AS dan China akan bisa diteken pada bulan ini juga. Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengungkapkan bahwa jika kedua negara benar berhasil menyepakati kesepakatan dagang tahap satu, penandatanganan akan digelar di AS.
“Pertama-tama, saya ingin meneken kesepakatan dagang,” kata Trump di Gedung Putih kala berbicara di hadapan reporter, Minggu (3/11/2019), seperti dilansir dari Bloomberg.
“Lokasi penandatangan kesepakatan dagang, untuk saya, sangatlah mudah (untuk ditentukan).”
Untuk diketahui, sebelumnya AS dan China berencana untuk meneken kesepakatan dagang tahap satu di Chile, kala Trump bertemu dengan Presiden China XI Jinping di sela-sela gelaran KTT APEC. Namun, rencana tersebut kemudian dipertanyakan menyusul keputusan Chile untuk membatalkan gelaran tersebut, seiring dengan aksi demonstrasi yang tak kunjung padam di sana.
Maklum jika pelaku pasar begitu mengapresiasi prospek ditekennya kesepakatan dagang AS-China. Pasalnya, kesepakatan dagang AS-China bisa menjadi kunci bagi kedua negara untuk menghindari yang namanya hard landing alias perlambatan pertumbuhan ekonomi yang signifikan.
Belum lama ini, China mengumumkan bahwa perekonomiannya hanya tumbuh di level 6% secara tahunan pada kuartal III-2019, lebih rendah dari konsensus yang sebesar 6,1%, seperti dilansir dari Trading Economics. Pertumbuhan ekonomi pada kuartal III-2019 juga lebih rendah dibandingkan capaian pada kuartal II-2019 yang sebesar 6,2%.
Untuk diketahui, laju pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2019 yang sebesar 6,2% merupakan laju pertumbuhan ekonomi terlemah dalam setidaknya 27 tahun, seperti dilansir dari CNBC International.
Kuatnya optimisme bahwa AS-China akan segera meneken kesepakatan dagang tahap satu bahkan membuat indeks Hang Seng kembali menguat kala Hong Kong sudah resmi memasuki periode resesi.
Untuk diketahui, jika apresiasi indeks Hang Seng bertahan hingga akhir perdagangan, maka akan menandai apresiasi selama tiga hari beruntun.
Pada pekan lalu tepatnya hari Kamis (31/10/2019), Departemen Sensus dan Statistik Hong Kong merilis pembacaan awal untuk data pertumbuhan ekonomi periode kuartal III-2019. Pada tiga bulan ketiga tahun ini, perekonomian Hong Kong diketahui membukukan kontraksi sebesar 3,2% secara kuartalan (quarter-on-quarter/QoQ).
Sebagai informasi, resesi merupakan penurunan aktivitas ekonomi yang sangat signifikan yang berlangsung selama lebih dari beberapa bulan, seperti dilansir dari Investopedia. Sebuah perekonomian bisa dikatakan mengalami resesi jika pertumbuhan ekonominya negatif selama dua kuartal berturut-turut.
Lantaran pada kuartal II-2019 perekonomian Hong Kong sudah terkontraksi sebesar 0,4% secara kuartalan, pertumbuhan ekonomi yang kembali negatif secara kuartalan pada kuartal III-2019 resmi membawa Hong Kong mengalami resesi untuk kali pertama sejak tahun 2009, kala krisis keuangan global menerpa.
Aksi demonstrasi besar-besaran yang terjadi di sana selama nyaris lima bulan sukses menekan laju perekonomian dengan sangat signifikan, seiring dengan terkontraksinya sektor pariwisata dan ritel. Untuk diketahui, aksi demonstrasi besar-besaran yang dalam beberapa waktu terakhir terjadi di Hong Kong pada awalnya dipicu oleh penolakan terhadap RUU ekstradisi.
Pada bulan lalu, Menteri Keuangan Hong Kong Paul Chan mengatakan bahwa jumlah turis yang mengunjungi Hong Kong pada periode Agustus 2019 ambruk nyaris 40% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Kontraksi pada jumlah turis yang mengunjungi Hong Kong di bulan Agustus jauh lebih dalam ketimbang penurunan pada periode Juli 2019 yang hanya sebesar 5%.

 

AS akan Izinkan Transaksi dengan Huawei, Straits Times Hijau

Bursa saham acuan Singapura menguat pada pembukaan perdagangan hari ini (4/11/2019) seiring kembalinya optimisme pelaku pasar akan damai dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China.
Indeks Straits Times dibuka menguat 0,26% ke level 3.237,85 indeks poin, di mana dari 30 saham yang menghuni indeks acuan bursa saham Singapura tersebut, 18 saham yang mencatatkan kenaikan harga, 7 saham melemah, dan 5 saham tidak mencatatkan perubahan harga.
Asa damai dagang Washington dan Beijing kembali membuncah setelah Sekretaris Kementerian Perdagangan AS Wilbur Ross menyampaikan pada Minggu (3/11/2019) bahwa lisensi yang mengizinkan perusahaan AS untuk menjual produk ke Huawei akan diberikan dalam waktu dekat, dilansir dari CNBC International.

Untuk diketahui, pada awal tahun ini, Negeri Paman Sam memasukkan perusahaan teknologi raksasa China tersebut ke dalam ‘Daftar Entitas’ karena alasan keamanan nasional. Perusahaan yang masuk daftar tersebut tidak diperbolehkan melakukan transaksi dengan perusahaan AS tanpa lisensi dari pemerintah AS.
Tindakan tersebut sempat membuat geram pemerintah Negeri Tiongkok dan menjadi salah satu hambatan tercapainya damai dagang antara kedua negara.
Lebih lanjut, dalam kesempatan yang sama Ross juga menyebutkan beberapa lokasi potensial yang akan dijadikan tempat penandatanganan perjanjian fase I antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping. Alternatif lokasi termasuk Iowa, Alaska, Hawai atau suatu tempat di China.
Pelaku pasar global sempat khawatir bahwa penandatangan perjanjian damai dagang antara kedua negara mundur setelah pemerintah Chile membatalkan penyelenggaraan KTT Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik bulan depan, di mana Trump dan Xi awalnya dijadwalkan mengesahkan kesepakatan di sela-sela acara tersebut.
Meskipun berbagai kabar baik terkait damai dagang AS-Chin terus bermunculan, akan tetapi analis tetap berhati-hati dalam mencerna informasi tersebut sebelum mengambil keputusan investasi.
“Sejauh ini perkembangan (hubungan) dagang AS-China menunjukkan kesepakatan fase I yang tampak seperti kepastian. (Namun) masalah kontroversial mengenai apakah AS akan membatalkan rencana tarif bulan Desember dan menghapus beberapa tarif yang berlaku saat ini sesuai dengan tuntutan China tetap tidak diketahui,” ujar Rodrigo Catril, ahli strategi valas senior di Bank Nasional Australia, dikutip dari CNBC International.
“Jika masalah (tersebut) tidak terselesaikan, maka kesepakatan dapat dengan mudah runtuh,” tambah Catril.

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Close Menu