Akhir Pekan, Dolar AS Naik Ke Level Tinggi Satu Bulan

Akhir Pekan, Dolar AS Naik Ke Level Tinggi Satu Bulan

Hot News Market Hari Ini

( Senin, 23 Desember 2019 )

Sedang Dimakzulkan, Trump Mau Main Mata Sama PM Inggris

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan telah mengundang Perdana Menteri Inggris Boris Johnson untuk berkunjung ke Gedung Putih pada Januari 2020. Kedua negara disebut hendak menegosiasikan kesepakatan dagang baru pasca-Inggris hengkang dari Uni Eropa.

“Beberapa tanggal potensial telah diumumkan pada pertengahan Januari, tapi belum ada yang secara resmi disepakati. Namun jelas bahwa kedua belah pihak ingin mewujudkannya pada awal 2020,” kata surat kabar Inggris, Sunday Times, mengutip seorang sumber internal Gedung Putih, Minggu (22/12).

Menurut Sunday Times, Johnson enggan bepergian sebelum Inggris resmi keluar dari Uni Eropa pada 31 Januari 2020. Dia pun disebut lebih tertarik untuk melakukan perjalanan luar negeri setelah merombak kabinet yang dijadwalkan dilaksanakan pada Februari.

Johnson diperkirakan menunjuk menteri kantor kabinet Michael Gove sebagai negosiator perdagangan barunya. Jika prediksi itu terwujud, Johnson dapat dipastikan mengajak Gove saat melakukan kunjungan ke AS.

Namun menurut Sunday Times, beberapa pejabat di Downing Street memiliki kekhawatiran jika Johnson benar-benar melakukan kunjungan ke AS. Mereka takut Johnson dapat terseret dalam proses pemakzulan Trump yang kini sedang berlangsung.

 

Pada Jumat lalu, kesepakatan Brexit, Johnson telah disetujui parlemen Inggris. Itu merupakan langkah pertama untuk merealisasikan janjinya saat pemilu Inggris beberapa waktu lalu untuk menarik Inggris dari Uni Eropa pada 31 Januari 2020.

 

Saat Inggris bersiap keluar dari Uni Eropa, Johnson dan Trump telah sepakat untuk menegosiasikan kesepakatan perdagangan bebas antara kedua negara. Trump pun telah menyatakan hal demikian sebelumnya.

 

Menurut Trump, pasca-Brexit, Inggris dan AS bebas untuk menyepakati perjanjian dagang besar-besaran terbaru. “Kesepakatan ini memiliki potensi untuk menjadi jauh lebih besar dan lebih menguntungkan daripada kesepakatan apa pun yang dapat dibuat dengan Uni Eropa,” kata Trump.

 

 

Harga Emas Terkonsolidasi, Pasar Masih Awasi Perang Dagang

Harga emas berada dalam rentang konsolidasi sejak tanggal 11 Desember. Saat berita ini ditulis pada hari Sabtu (21/Desember), tampak XAU/USD diperdagangkan di 1,477.97. Sementara itu, harga emas spot di posisi $1,478.22, dan harga emas futures untuk pengiriman Februari diperdagangkan di $1,480.90 per ounce. xauusd Harga emas sedikit tergelincir merespon Dolar AS yang menguat setelah serangkaian data ekonomi AS yang baru saja dirilis hari Jumat kemarin. Gross Domestic Product (GDP) Final AS tumbuh 2.1 persen sesuai dengan ekspektasi. Sementara itu, Core PCE Index AS yang tercatat di level 0.1 persen pada bulan November, juga sesuai dengan ekspektasi. Hasil-hasil tersebut semakin meyakinkan pasar bahwa tidak akan ada pemotongan suku bunga The Fed lagi dalam waktu dekat. “Emas sedang terkosolidasi di puncak rentang terbarunya, dengan Dolar AS yang sedikit menguat dan kondisi risiko yang positif…. Tampaknya, tak ada pelaku pasar yang ingin melihat pasar (emas) naik, jadi level-levelnya sangat seimbang saat ini.” komentar analis OANDA, Jeffrey Halley. Isu Perang Dagang Masih Diantisipasi Kendati demikian, penggerak utama pasar emas masih seputar perkembangan perang dagang AS-China. Dalam kicauannya pada Jumat (20/Desember) kemarin, Presiden AS Donald Trump menekankan bahwa penandatanganan kesepakatan perdagangan Fase Pertama secara resmi akan segera dilakukan. Trump menyebut bahwa ia telah membicarakannya melalui telepon dengan Presiden China Xi Jinping. Namun, pasar finansial masih ragu apakah China akan menyetujuinya atau tidak. Pasalnya, China sempat mengungkapkan keberatan atas jumlah permintaan pembelian produk pertanian AS yang terlalu besar. Terlepas dari keraguan pasar, Menkeu AS Steven Mnuchin mengonfirmasi bahwa AS dan China akan menandatangani pakta dagang Fase Satu di awal bulan depan, tanpa perlu menggelar negosiasi kembali. Selain soal perang dagang, kemelut politik AS juga menjadi alasan bagi para investor untuk bertahan di emas. Isu pemakzulan Trump oleh Partai Demokrat akan terus diawasi pasar, walaupun peluang keberhasilan penggulingan presiden tersebut cukup kecil, mengingat Senat AS masih dikuasai oleh Partai Republik yang mengusung Trump.

 

Akhir Pekan, Dolar AS Naik Ke Level Tinggi Satu Bulan

Departemen Perdagangan AS pada hari Jumat (20/Desember) kemarin melaporkan bahwa pertumbuhan ekonomi AS meningkat di kuartal ketiga dalam basis tahunan. Gross Domestic Product (GDP) Final AS tumbuh 2.1 persen di bulan November, sesuai dengan forecast pasar dan tidak berubah dari estimasi sebelumnya. united-states-gdp-growth Sinyal-sinyal yang muncul dinilai menunjukkan bahwa ekonomi terkelola dalam laju ekspansi yang moderat jelang akhir tahun ini. Pasar tenaga kerja menjadi sektor yang memberikan kontribusi besar atas prestasi tersebut. Data penting lain yang dirilis pada hari ini adalah Core PCE Index AS. Salah satu indikator inflasi yang paling diperhatikan oleh The Fed itu tercatat di level 0.1 persen pada bulan November, sesuai dengan ekspektasi. The Fed sendiri menargetkan inflasi di 2 persen. Ada pula data Personal Spending, yang tercatat naik dari 0.3 persen ke 0.4 persen di bulan November. Kenaikan laporan yang menunjukkan pengeluaran masyarakat AS tersebut sesuai dengan ekspektasi, sehingga membangkitkan optimisme kesuksesan musim belanja dalam Libur Natal dan Tahun Baru di Amerika Serikat kali ini. united-states-personal-spending Dolar AS Bullish Indeks Dolar AS (DXY) merespon rilis data-data ekonomi AS hari ini dengan penguatan 0.28 persen ke 97.68, kembali ke rentang yang terakhir tercapai pada 05 November. Sementara itu, USD/JPY juga menguat tipis 0.04 persen dalam trend Sideways di kisaran 109.3-109.6. usdjpy Minggu depan, volatilitas pasar akan menurun drastis sehubungan dengan libur panjang hingga tahun baru 2020. Namun demikian, Jeremy Stretch dari CIBC Capital Markets memproyeksi bahwa Dolar AS akan melemah tahun depan. “Pantulan kecil (kenaikan) Indeks Dolar AS kemungkinan menunjukkan pada kita bahwa akan ada level-level jual yang sedikit lebih baik di tahun depan,” kata Stretch. “Kami masih cenderung pada Dolar AS yang lebih murah, karena masalah pertumbuhan di AS yang berkaitan dengan sektor-sektor lain. Ada juga faktor-faktor seperti meningkatnya risiko politik dalam kaitannya dengan Pemilu Presiden AS,” tambah analis tersebut.

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Close Menu