5 Hal Penting Wajib Dipantau Dipasar Global Pekan Ini

5 Hal Penting Wajib Dipantau Dipasar Global Pekan Ini

Hot News Market Hari Ini

( Senin, 11  November 2019 )

5 Hal Penting Wajib Dipantau Dipasar Global Pekan Ini

© Reuters.

Penampilan Presiden AS Donald Trump dan Ketua Federal Reserve Jerome Powell didepan publik akan menjadi pusat perhatian pekan ini di tengah ketidakpastian baru seputar prospek kesepakatan perdagangan awal AS-Cina.

Investor juga akan mendapatkan pembaruan tentang kesehatan ekonomi global, dengan beberapa negara dari Jerman hingga Jepang akan merilis data pertumbuhan kuartal ketiga. Amerika Serikat akan merilis data inflasi pada hari Rabu dan data penjualan ritel serta produksi industri pada hari Jumat berikutnya. Kalender ekonomi juga bakal menyajikan penampilan dari sejumlah pejabat Fed.

Sementara itu, hari belanja online terbesar di Cina, Singles Day dimulai pada hari Senin dan para analis mewaspadai tanda-tanda kemerosotan akibat perang dagang di ekonomi terbesar kedua di dunia ini.

Inilah hal yang perlu Anda ketahui untuk memulai minggu Anda.

  1. Trump akan Berpidato di Klub Ekonomi New York

Pada hari Selasa, Trump akan memberikan sambutan dalam acara di Klub Ekonomi New York dan pasar mengharapkan kejelasan lebih lanjut mengenai rencana kesepakatan “tahap satu”.

Trump Jumat silam mengatakan ia belum setuju mengembalikan tarif AS semula yang diinginkan oleh Cina. Hal ini memicu keraguan baru tentang kapan dua ekonomi terbesar dunia tersebut dapat mengakhiri perang dagang 16 bulan yang telah memperlambat pertumbuhan global.

Pernyataan Trump muncul sehari setelah para pejabat dari kedua negara mengatakan Cina dan AS telah sepakat untuk menurunkan tarif impor barang satu sama lain dalam kesepakatan perdagangan “tahap satu”.

Saham-saham AS jatuh setelah komentar Trump itu dan dolar juga melemah terhadap yen. Ini menghentikan pergerakan reli dipicu oleh optimisme kesepakatan perdagangan yang mendorong indeks utama mencatatkan rekor baru.

  1. Pandangan Powell

Investor akan mendengar langsung komentar dari Ketua Fed Jay Powell mengenai pandangan bank sentral AS terhadap ekonomi, inflasi dan kebijakan moneter ketika ia memberikan testimoni di hadapan Komite Ekonomi Gabungan Kongres AS di Washington pada Rabu setempat dan Komite Anggaran Parlemen AS pada Kamis kemudian.

Ia diharapkan akan mengulangi bahwa rencana pelonggaran lanjutan kini ditahan setelah Fed menurunkan suku bunga bulan lalu untuk ketiga kalinya dalam banyak pertemuan.

Pengamat pasar juga akan memiliki kesempatan mencerna pandangan tidak kurang dari delapan pejabat Fed lainnya minggu ini, termasuk kepala Fed New York John Williams (NYSE:WMB). Ia mengatakan pada Jumat lalu bahwa ekonomi AS berada di posisi yang baik dan ia menegaskan kembali pandangannya bahwa pemotongan suku bunga yang dilakukan tahun ini harus secara tepat menangani potensi risiko terhadap perekonomian.

  1. Data ekonomi AS

Ronde baru data ekonomi AS akan diawasi dengan cermat pada saat pasar berusaha mengukur dampak konflik perdagangan terhadap prospek pertumbuhan.

Indeks Harga Konsumen Oktober akan diumumkan pada hari Rabu. IHK inti per tahun diperkirakan sebesar 2,4% dan inflasi inti 1,7%. Tapi pengukur inflasi favorit Fed dari pengeluaran konsumsi pribadi inti berjalan sekitar 1,6% – sebagian besar berada di bawah target 2% sejak sebelum krisis keuangan.

Pada hari Jumat, data penjualan ritel dan produksi industri Oktober akan menjelaskan apakah konsumen dapat terus mendorong pertumbuhan dalam menghadapi sektor manufaktur yang mengalami kesulitan dan ketegangan perdagangan yang berlangsung selama berbulan-bulan.

  1. Pembaruan pertumbuhan global

Beberapa negara dari Jerman hingga Jepang akan merilis data pertumbuhan kuartal ketiga dalam beberapa hari mendatang.

Angka-angka dari Jerman pada hari Kamis akan menunjukkan apakah ekonomi terbesar kawasan euro turun ke tingkat resesi pada kuartal ketiga.

Di Inggris, data Senin diharapkan bakal menunjukkan bahwa ekonomi berusaha menghindari tingkat resesi setelah mengalami kontraksi sebesar 0,2% pada kuartal sebelumnya. Tetapi tingkat ketidakpastian ekonomi yang tinggi tampaknya akan berlanjut dan mendorong Bank of England untuk mengambil sikap pekan lalu bahwa pihaknya siap untuk memotong suku bunga jika terjadi No Deal Brexit.

Jepang bakal mengumumkan data PDB kuartal ketiga pada hari Kamis di tengah perkiraan sedikit perlambatan dari kuartal sebelumnya.

  1. Alibaba incar rekor penjualan belanja online ‘Singles Day’

Alibaba Group (NYSE:BABA) akan memulai acara tahunan spektakuler belanja 24 jam 11.11 atau yang dikenal sebagai Double 11, pada Senin ini dengan menawarkan banyak barang dan diskon besar-besaran, serta penampilan dari Taylor Swift. Semua itu diharapkan dapat mendorong rekor penjualan lain di acara tahun ‘Singles Day’.

Pesta 11 November tahun ini muncul ketika raksasa ritel Cina tersebut melakukan perubahan titik balik perusahaan setelah pengunduran diri Jack Ma sebagai pemimpin pada bulan September lalu dan terlihat akan meningkatkan penjualan saham hingga $15 miliar di Hong Kong pada bulan ini.

Pada acara Singles Day tahun lalu, Alibaba berhasil mengantongi penjualan barang senilai $30 miliar di platformnya dan mengalahkan penjualan online di AS dengan tajuk acara ‘Cyber Monday’, hanya senilai $7,9 miliar. Tetapi pertumbuhan penjualan Alibaba yang hanya sebesar 27% merupakan hasil penjualan terendah dalam sejarah 10 tahun acara tersebut setelah rata-rata mengumpulkan penjualan 40% hingga 100% pada tahun-tahun sebelumnya.

Hubungan AS-China Bikin Bingung, Harga Emas Naik Lagi

Pekan kemarin harga emas ditutup anjlok, mencetak level terendah dalam tiga bulan terakhir. Pagi ini harga emas diperdagangkan menguat.

Harga emas dunia di pasar spot berada di US$ 1.462,37 /troy ons atau naik 0,27% dibanding harga penutupan perdagangan minggu lalu.

Kesepakatan dagang antara Amerika Serikat dan China kini menghadapi batu sandungan dan kembali menjadi tidak pasti.

Kamis (7/11/2019), pejabat kedua negara mengumumkan bahwa Washington dan Beijing sepakat untuk mencabut bea masuk yang dikenakan untuk berbagai produk AS dan China sebagai bagian dari fase pertama kesepakatan dagang.

Namun hal tersebut dibantah oleh Presiden AS, Donald Trump. Mengutip Reuters, Trump menyampaikan bahwa dirinya belum menyetujui pencabutan tarif tersebut.

“China ingin bea masuk dicabut, walaupun tidak seluruhnya karena mereka tahu saya tidak akan melakukannya dan saya belum menyetujui apa pun” kata Trump melansir Reuters.

Penasehat Perdagangan Gedung Putih, Peter Navarro, menegaskan dalam sebuah wawancara dengan Fox Business Network.

“Tidak ada kesepakatan untuk saat ini yang menghapus semua tarif yang diberlakukan, sebagai kondisi untuk kesepakatan fase pertama,” katanya sebagaimana dikutip Reuters, Jumat (8/11/2019).

“Mereka hanya bernegosiasi di ranah publik. Dan tengah mencoba mendorong (kesepakatan) ke satu arah.”

Menurut Navarro pernyataan itu keluar dari media pemerintah China. Ia menilai media China tengah melakukan upaya propaganda.

Sebelumnya, Pemerintah China dan Pemerintah AS memang tengah membicarakan kesepakatan damai perdagangan. Pembicaraan telah dimulai sejak Oktober lalu.

Dari pertemuan yang langsung dihadiri Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri China itu, keduanya mengaku sepakat pada sejumlah hal. Diantaranya, AS yang bersedia membatalkan salah satu kebijakan tarifnya pada barang China yang berlaku di Oktober.

Meski demikian, penandatanganan secara resmi poin-poin pertemuan tak kunjung terjadi. Awalnya penandatanganan kesepakatan dagang fase pertama kedua negara akan dilakukan di puncak meeting APEC pada pertengahan November di Chile.

Sayangnya keamanan Chile yang buruk akibat demonstrasi terus menerus membuat agenda ini dibatalkan.

Sejumlah lokasi disebutkan akan menjadi tempat alternatif, seperti London, Iowa dan Hawai. Namun belum ada konfirmasi resmi dari Beijing dan Washington. Trump sempat menyebut pertemuan akan dilakukan Desember nanti.

Sebenarnya kenaikan tarif tidak hanya berlaku pada barang China di Oktober saja.

Desember nanti, AS juga akan memberlakukan kenaikan pada US$ 156 miliar barang China.

Aturan ini akan dikenakan pada barang-barang seperti ponsel, komputer laptop, dan mainan. Dalam setiap wawancara dengan media, China terus menegaskan keinginan agar tarif lain yang diberlakukan AS juga segera dicabut.

Selain itu, data ekonomi China yang mengecewakan juga menyebabkan harga emas naik. Angka Indeks Harga Produsen (PPI) China yang menunjukkan profitabilitas korporasi turun 1,6% pada Oktober.

Penurunan tersebut merupakan kontraksi yang terdalam sejak Juli 2016 melebihi prediksi analis yang terkontraksi hanya 1,5%.

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Close Menu